Archive for the ‘The Fronterz’ Category

Memasuki tahun ke-10 proklamasi propinsi Banten dari propinsi Jawa Barat ternyata tak lantas membuat masyarakat Banten menjadi merdeka. Beberapa waktu lalu penulis berkunjung ke daerah Kadu Genep Kidul Kecamatan Petir. Setelah sholat tarawih, masyarakat setempat kumpul di mesjid desa dalam suatu acara silaturrahmi dengan orang-orang dari kota. Mereka mengatakan, “kami belum merdeka pak! Beberapa kali pemerintahan berganti tapi situasi sosial tidak berubah. Jalan-jalan masih rusak. Partai-partai dan pemerintah ‘ngabako wae’. Yang penting sekarang bukti, bukan janji.”

Ironis memang. Masyarakat Banten ternyata masih termarjinalkan. Apakah ini yang disebut dengan pemiskinan struktural? Rendahnya komitmen pemerintah untuk meningkatkan mobilitas sosial, budaya dan ekonomi “wong cilik” bisa menimbulkan disparitas sosial, ekonomi, budaya yang makin melebar. Pembangunan infrastuktur yang lambat menjadikan biaya hidup di pedesaan lebih mahal daripada di perkotaan. Bahkan ujung-ujungnya pedesaan cenderung men-subsidi kehidupan orang-orang perkotaan.

Kearifan Lokal

Orang bijak mengatakan, “A nation againts it’s own principle will never stand,” sebuah bangsa yang melupakan jatidiri bangsanya sendiri, maka ia tidak akan dapat bertahan lama. Oleh karena itu, orientasi pembangunan kita mestinya mampu mengembalikan peradaban dan budaya luhur bangsa kepada “makom”-nya yang asli. Artinya, kita ditakdirkan lahir dan besar di tanah air Indonesia maka jangan sekali-kali ingin merubah diri ingin menjadi orang Amerika atau Arab. Karena Barat dan Arab memiliki “makom” yang berbeda dengan Indonesia. Jika kita dilahirkan di Medan dengan suku Batak tak usah ingin jadi orang Jawa atau Sunda karena Batak punya ciri khas dan adat-istiadatnya sendiri. Indonesia terdiri atas ribuan pulau dengan beraneka suku dengan adat istiadatnya yang berbeda-beda, biarkanlah tumbuh bagaikan taman firdaus yang dihiasi dengan bunga-bunga yang beraneka rupa warnanya yang indah. Kembalikan semua itu kepada makom-nya, yakni makom yang sesuai budaya dan jatidiri masyarakat Banten. Karena itu, orientasi pembangunan juga mesti mendorong budaya Banten agar bisa berkontribusi terhadap budaya nasional. Bila hal itu terlaksana menjadi kenyataan, maka kearifan budaya lokal akan banyak menarik bukan saja wisatawan lokal tapi juga mancanegara. Orang asing yang berduit, kini tak lagi tertarik dengan gedung-gedung pencakar langit karena di negaranya sudah banyak, tetapi kotekan lesung akan mereka cari karena tercipta keteduhan hati yang tak mereka peroleh di negaranya.

Membangun masyarakat Banten adalah membangun infrastruktur sosial ekonomi dan budaya sampai ke pelosok-pelosok pedesaan, membangkitkan spirit kebersamaan dan gotong royong yang merupakan karakter dasar masyarakat kita. Membangun masyarakat Banten adalah mengali dan mengekploitasi potensi-potensi sosial ekonomi dan budaya untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat. Dunia impian yang aman, tentram dan tak banyak bencanapun bisa terwujud seperti harmonisasi kehidupan yang dilakukan oleh kaum badui yang terkenal itu. Namun sebaliknya, bila pembangunan tak berbasis kearifan lokal maka kehancuran di muka bumi tak akan bisa terelakkan. Pencemaran air, polusi udara, kesenjangan, keterbelakangan, pertentangan-pertentangan sosial pasti terjadi sehingga menghambat produktifitas.

Doktrin Global Warming dan Back to Nature membutuhkan keseimbangan lahir dan batin, yakni harmonisasi yang membutuhkan kearifan lokal di dalam mengelola pemerintahan, rakyat dan alam sekitarnya. Jika pengelola pemerintahan beriman dan bertakwa kepada Allah SWT maka pasti akan terwujud keberkahan di dunia dan akhirat.

Keseimbangan Sosial

Proses pembangunan mestinya selalu menjaga keseimbangan sosial. Misalnya, menciptakan keseimbangan antara pasar tradisional (lahan ekonomi masyarakat kecil) dengan pasar modern (supermarket simbul kemodernan). Sedangkan dari sisi parawisata, selain menarik minat wisatawan asing yang pasti membawa budaya luar, juga mesti dilakukan prohram-program ketahanan budaya. Membuat padepokan pencak silat dan pertunjukan debus di tepi pantai bisa jadi merupakan daya tarik penting mengundang wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke tempat kita. Melestarikan dan membangun kembali bekas kerajaan-kerajaan untuk dijadikan tempat pariwisata dan pemangku adat istiadatnya masing-masing dapat meningkatkan devisa dan membuka lapangan kerja. Replika kapal VOC yang dijadikan tempat untuk negosiasi politik dan bisnis dengan dekorasi klasikal dan historisnya bila dilengkapi restoran terintegrasi dan atraksi budaya lokal pasti akan mampu menarik wisatawan.

 

Karena itu, untuk meningkatkan mobilitas sosial dan budaya masyarakat Banten setidaknya perlu dilakukan tiga program unggulan, seperti:

1.      Membangun situs-situs bersejarah seperti yang ada di kota Banten Lama dengan melibatkan para Arkeolog nasional maupun internasional.

2.      Membangkitkan kembali kebudayaan local (contoh: makanan tradisional, pencak silat dan debus), menuju perilaku budaya manusia Indonesia sesuai dengan kepribadian asli bangsa Indonesia, yang cinta kejujuran, suka keberanian dan bergotong royong.

3.      Memasukkan kembali mata pelajaran budi pekerti dalam silabus pendidikan nasional sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Karena pendidikan merupakan basis utama di dalam meningkatkan mobilitas sosial dan budaya bangsa.

 

Apabila visi dan strategi pembangunan sosial budaya dapat dilakukan secara tepat sasaran maka diperkirakan dalam kurun waktu satu dekade, propinsi Banten akan diperhitungkan eksistensinya baik secara nasional maupun internasional.

Eday Fronterz

Div. Eksternal FAM Banten

Iklan

KEMERDEKAAN POLA PIKIR

Posted: Oktober 19, 2010 in The Fronterz

Kekuasaan menjadi Filosofi dari sebuah “Kepentingan”, maka diperlukan suatu cara untuk merealisasikan impian dari sebuah bentuk kepentingan atau dengan kata lain pembentukan system seperti contoh halnya, system dari Kepentingan, oleh kepentingan dan untuk kepentingan. Doktrinasi kekuatan dari kekuasaan demi mempertahankan sebuah kepentingan dilakukan dengan berbagai cara agar terus berlangsungnya kelanggengan kekuasaan tersebut.

Namun sangat ironis, ketika kekuasaan tersebut sudah tidak layak untuk dijadikan tolak ukur kepentingan yang berlawanan dengan kepentingan lainnya, dan acap kali kepeningan tersebut dipaksakan untuk dipertahankan sehingga menimbulkan intervensi bagi kepentingan lainnya. Ketika hal tersebut sudah dan telah sering menjadi konsumsi keseharian bagi para pemegang kekuasaan, maka sudah barang tentu golongan diluar tampak kekuasaan yang menjadi objek yang dikuasai menjadi berjuta penderitaan.

Berawal dari sebuah arogansi rasa yang tak pernah berkecukupan dan dipadukan dengan pola piker diatas rata-rata. Maka lahirlah perilaku menjadi pemangsa bagi lainnya atau lebih kita kenal dengan gelar “Kejahatan Intelektual”. Berjuta korban bersibuh luka menjadi hiburan bagi para pelaku kejahatan intelektual tanpa rasa bersalah dan rasa takut dari dogmatis ataupun hukum.

Dengan sejumlah pemberian nominal, betapa yakin atas tindakan pelaku kejahatan tersebut untuk membenarkan atas apa yang telah dilakukannya dengan beberapa tolak ukur pembelian hati nurani para pihak berwenang dan penindak atas perilaku tersebut. Maka telah kita dengar dari berbagai bisikan-bisikan yang menjadi rahasia umum atas perkara menyuap dan disuap.

Berbagai solusi tak pernah mampu menjawab pertanyaan dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi bagi penderita. Rasa tak percaya akibat pelecehan janji terucap oleh kata-kata dari para penguasa, membuat “Negeri Impian” ini Bosan dan Jengah. Berjuta korbanpun mati dari waktu kewaktu akibat perilaku tersebut, serta menanamkan rasa dendam dan kebencian. Hingga akan tiba suatu hari nanti sebuah keadaan reaksi atau buah yang timbul dari tanaman rasa sakit hati dari bibit penderitaan. Harapan berkehidupan yang layakpun tinggal kenangan, dan semakin menjauh. Adakah jawaban dari cerita khayalan ini? Sudah saatnya kita semua memerdekakan pola pikir.

Eday Fronterz

Div. Eksternal FAM Banten